Di Bilik Bersalin Itu, Suaminya Tiba-tiba Berlutut Dan Berkata, “Doktor, Kami Tidak Mahu Lagi Anak Itu”, Doktor dan Jururawat Disitu pun Tercengang Mendengarnya..

Kata orang wanita hamil adalah wanita yang paling cantik dan penuh dengan kasih!Karena wanita hamil akan segera menjadi seorang ibu, yang akan memancarkan pesona keibuannya.

Siapa pun suka diperhatikan, begitu juga dengan kasih ibu.

Setelah menikah, Dena tetap saja terlihat seperti orang yang sedang kasmaran, sang suami selalu memanjakannya.

Enam bulan setelah menikah, Dena pun hamil, dan suaminya selain waktu kerja, selebihnya ia habiskan untuk menemani Dena isterinya, membawanya jalan-jalan dan menyediakan makanan yang lezat untuknya.

Sepanjang masa kehamilan berlalu dengan lancar, namun setiap pemeriksaan kehamilan, suami Dena selalu menemaninya meski dengan risiko gaji dipotong, karena anak yang dikandung Dena adalah anak mereka berdua, jadi dia harus selalu menemaninya. Kata sang suami yang sangat menyayangi Isterinya.

Seiring dengan perut Dena yang semakin besar, dan waktu kelahiran juga semakin dekat, Dena dan Deny suaminya menanti dengan harap-harap cemas dan terlihat tegang.

Suatu pagi, Dena melihat air ketubannya pecah saat bangun tidur, ia pun berteriak memanggil suaminya yang segera membawanya ke rumah sakit.

Dena yang bersikeras berjalan membuat kagum para bidan, karena mereka jarang melihat ada wanita hamil yang bisa dengan begitu tenangnya menahan sakit.

Bidan rumah sakit juga memberinya semangat, dan pada saat-saat genting, Dena melarang suaminya melihat lantai, karena ia tahu persis banyak darah berceceran di lantai, sebab ia bisa merasakan cucuran darah dari anggota badan bagian bawah.

Di Bilik Bersalin Itu, Suaminya Tiba-tiba Berlutut Dan Berkata, “Doktor, Kami Tidak Mahu Lagi Anak Itu”, Doktor dan Jururawat Disitu pun Tercengang Mendengarnya..

Di Bilik Bersalin Itu, Suaminya Tiba-tiba Berlutut Dan Berkata, “Doktor, Kami Tidak Mahu Lagi Anak Itu”, Doktor dan Jururawat Disitu pun Tercengang Mendengarnya..

Ia takut akan ada bayangan psikologis pada suaminya.

Mulut rahim sudah mulai membuka selebar 2 cm saat pemeriksaan di rumah sakit, Dena langsung disuruh masuk ke ruang tunggu untuk proses persalinan diikuti suaminya.

Karena kontraksi rahim tidak kuat, dokter menyarankan agar proses persalinan dilakukan secara induksi, karena air ketuban sudah pecah.

Akan sangat berisiko jika janinnya tidak segera dikeluarkan. Kontraksi semakin kuat tak lama setelah suntikan oksitosin.

Anggota bagian bawah tubuh Dena terus mengalirkan darah, dan suami Dena menggenggam erat tangan isterinya, tak sanggup melihat Dena tampak begitu tersiksa.

Rasa pedih yang tak tertahankan akibat kontraksi membuat Dena terus berteriak, dan di bagian bawah anggota badannya juga terus mengucurkan darah segar. Sementara doktor terus membimbng Dena cara bernafas untuk mengurangi rasa sakit.

Namun, Dena sepertinya tidak mendengar apa pun, rasa sakit akibat kontraksi itu telah membuatnya kehilangan kesadaran.

Tiba-tiba suami Dena berlutut dan berteriak keras ke doktor.

“Dok, kucuran darah isteriku terlalu banyak, tolong segera berikan cairan infuse, kami tidak mau lagi anak itu.”

Doktor dan jururawat tercengang seketika mendengar teriakan suami Dena, dan Dena yang mendengar teriakan suaminya segera berkata pada suaminya sambil menahan sakit, “Tidak apa-apa Den, aku masih bisa bertahan, percayalah.”

Mata doktor dan perawat di ruang persalinan tampak sembab, untuk pertama kalinya mereka melihat seorang lelaki yang begitu menyayangi isterinya.

Dena kemudian dibawa ke ruang persalinan dan melahirkan seorang anak perempuan dengan selamat.

Doktor memanggil suami Dena ke ruangannya menjlelaskan sejenak pengetahuan tentang persalinan wanita.

Saat keluar dari rumah sakit, Deny langsung berkata pada Dena isterinya, bahwa cukup satu anak perempuan ini saja seumur hidup, tidak ingin menambah anak lagi.

Deny berkata begitu karena tak sanggup melihat penderitaan Dena di ruang persalinan tadi. Betapa beruntungnya Dena memiliki suami yang begitu perhatian dan menyayanginya.

Kredit: erabaru